Love is much like a wild rose, beautiful and calm, but willing to draw blood in its defense

PART I

PART II

PART III

Face claim
Actress Bae Suzy
Main Job
Forensic Doctor
Side Job
Assassin
Sexual Orientation
Heterosexual
Religion
Catholic
Marital Status
Single

Full Name
Kinoshita Karin
(木下 花綸)
Real Name
Sano Akari
Pseudonym
Himawari
Place and Date of Birth
Takamatsu, 26 Desember 1990
Nationality
Japanese

Height
168 cm
Weight
50 kg
Eye Color
Black
Hair Color
Black

TRIVIA

Tidak suka memakan makanan yang terlalu pedas.
Bisa memainkan gitar dan pandai bernyanyi.
Sewaktu kecil Karin memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi.
Sangat menyukai bunga mawar dan sangat tidak suka (re:benci) dengan bunga matahari.
Setiap kali membunuh targetnya, Karin selalu meletakkan sekuntum bunga matahari di dada targetnya, menandakan kebenciannya.
Sama sekali tidak menginginkan sebuah tato di tubuhnya karena menurutnya tato adalah sebuah identitas, dan pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran mengharuskannya untuk menyembunyikan identitasnya dengan baik.
Sering mengunjungi seorang psikolog pribadi yang adalah sahabatnya semasa SMP sampai SMA.
Memiliki banyak bekas luka di bagian punggung, pinggang dan dada. Oleh karena bekas luka yang dimilikinya, Karin tidak pernah menggunakan pakaian yang memperlihatkan area-area tubuhnya yang memiliki bekas luka.

PERSONALITY

WRATH
Seorang anak berumur 10 tahun yang harus melihat kematian ayahnya dengan cara yang begitu tragis membuatnya tumbuh sebagai seseorang yang kurang bisa mengontrol emosinya, terlebih amarah yang selalu meluap-luap setiap kali melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disukainya atau membuatnya merasa tidak nyaman.
GREED
Bagi seorang Karin jika seseorang terlalu memikirkan orang lain sampai dititik tidak memedulikan diri sendiri adalah sebuah kebodohan dan perbuatan yang naif. Ia selalu memandang bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu kejam dan siapa saja yang bersikap lembek tidak akan selamat dari seleksi alam yang begitu sadis. Siapa yang kuat dia yang bertahan. Oleh karena itu, Karin selalu mendahului kepentingan dirinya di atas orang lain, standar kenyamanan harus menurut pemandangannya. Ia bahkan tidak peduli jika jalan yang dipilihnya juga nanti akan menghancurkan orang-orang yang ada di dekatnya, yang terpenting adalah tujuan hidupnya tercapai.
VENGEFUL
Mata ganti mata dan gigi ganti gigi, tapi Karin bisa meminta lebih dari pada itu. Seseorang bisa saja menampar pipi kanannya dengan tangan kanan mereka, tetapi ia akan membalas dengan cara mematahkan tangan kiri mereka, dan jika mereka menggunakan kedua tangan mereka untuk menamparnya maka ia akan membuat orang itu lumpuh seumur hidupnya. Karin tidak akan memaafkan dan akan menuntut lebih dari apa yang sudah diperbuat orang padanya.
MANIPULATIVE
Karin selalu bisa menyerang seseorang secara mental dan emosional. Terkadang demi untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya ia tidak memerlukan emosi yang meledak-ledak atau kekerasan, cukup dengan dua-tiga kalimat keluar dari bilah bibirnya maka ia bisa mengambil keuntungan dari siapa saja yang ditargetkannya, bahkan tidak jarang orang lain berpikir bahwa mereka yang berhasil membuatnya tunduk, namun pada kenyataannya Karin yang memegang kendali. Keluarga angkatnya pun tidak ada yang selamat dari sifat manipulatifnya.
CHARITY
Dunia memang tidak adil, tapi Tuhan sudah memberikannya kesempatan untuk dapat hidup berkelimpahan. Ditengah hiruk-pikuk kehidupannya yang seakan-akan tidak diliputi oleh cahaya terang, Karin selalu berusaha untuk memberi apa yang ada padanya untuk orang-orang yang pantas ditolongnya. Baginya setiap orang berhak menerima apa yang sesuai dengan yang mereka perbuat, dia tahu bahwa dirinya tidak mungkin menerima surga itu, tetapi setidaknya ia ingin menciptakan surga bagi mereka yang menderita. Oleh karena itu, Karin menjadi representatif dari Kamisato-kai dalam hal melakukan kegiatan sosial untuk orang-orang yang membutuhkan, seperti kaum disabilitas, miskin dan anak-anak yatim piatu.
DILIGENCE
Sejak bayi, Karin hanya hidup bersama dengan ayahnya yang memiliki retardasi mental, begitu memiliki sebuah keluarga baru, ia pun mau tidak mau harus bersikap kuat dan mandiri serta mampu bertanggung jawab atas diri sendiri. Ia mampu mengambil keputusan apa pun yang sangat penting dalam hidupnya, tanpa memerlukan masukkan dari orang lain, karena dia yang lebih mengetahui kapasitas atau batasan dirinya sendiri. Ia bahkan mampu menyelesaikan semua masalah yang dimulai atau dilakukannya, tanpa meminta bantuan dari siapa pun termasuk keluarga angkatnya.
CHEERFUL
Karin mungkin saja menghabiskan setiap fase kehidupannya dengan penuh kegelapan. Namun, justru ia tumbuh menjadi seseorang yang belajar menemukan suatu kebahagiaan dari hal-hal yang kecil, sehingga dalam keluarga Kinoshita ia selalu dikenal sebagai nona muda yang murah senyum dan selalu tampil ceria serta penuh semangat. Kemana pun ia pergi selalu membawa senyuman, setidaknya sebelum seseorang melakukan kesalahan fatal yang mengubah suasana hatinya dalam sekejap, dari pelangi menjadi awan kelabu.
SENSITIVE
Karin sangat mudah atau peka dalam membaca atau melihat perubahan emosi atau sikap barang sedikit saja dalam diri seseorang. Ia dengan mudah dapat membaca suasana hati seseorang, suasana atau momen, sehingga ia dapat dengan mudah saja bergaul atau dekat dengan seseorang.

STORY
LINE

Wu Fei seorang wanita imigran gelap dari Cina yang menginjakkan kakinya di negara Jepang melalui kota Shinjuku. Sano Gajiro seorang pria yang memiliki retardasi mental dan sejak berumur 15 tahun hanya tinggal bersama dengan ibunya. Wu Fei dan Sano Gajiro bertemu untuk pertama kalinya ketika beberapa pria mesum mengikutinya sejak ia keluar dari tempatnya bekerja. Untuk menyelamatkan diri, Wu Fei menggandeng lengan Sano Gajiro yang kebetulan lewat di sana, berpura-pura menjadikan Sano Gajiro sebagai suaminya.Jatuh hati pada kepolosan Sano Gajiro yang semata-mata karena kondisi mentalnya, Wu Fei pun menikahinya tanpa memandang rendah kondisi mental Sano Gajiro. Namun, 5 bulan pertama pernikahan mereka terasa begitu sulit setelah kepergian ibu dari Sano Gajiro.Sebulan setelah kepergian sang ibu mertua, Wu Fei memutuskan untuk membawa suaminya ke kota Takamatsu dengan maksud untuk mengadu nasib di sana, tanpa menyadari bahwa saat itu ia sudah mengandung.Penyesalan selalu datang ketika semua sudah terlambat, Wu Fei merutuki nasibnya yang telah menikahi seorang pria dengan retardasi mental. Setiap harinya, Wu Fei selalu memarahi suaminya, bahkan memukulinya hingga para tetanggalah yang menyelamatkan Gajiro dari amukkannya.Setelah melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberinya nama Sano Akari, Wu Fei pun pergi meninggalkan putri yang baru dilahirkannya bersama dengan sang suami yang memiliki retardasi mental beserta sebuah surat yang hanya berisi satu kata, yaitu maaf. Sejak saat itu, Sano Gajiro membesarkan putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang, walaupun ia memiliki retardasi mental, namun hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk memberikan kasih sayang serta pertumbuhan yang baik bagi putrinya, bahkan ia dibantu oleh para tetangga yang membantu menjaga Akari sejak bayi ketika ia hendak pergi bekerja. Untung saja masih ada orang baik yang mau menerimanya bekerja."Ayah? Apakah memang kehendak Tuhan, ayah bisa menjadi seperti ini? Atau semuanya hanyalah sebuah kebetulan?""Ap-apa maksudmu?""Maksudku. . . kau berbeda. Kau tidak seperti ayah-ayah yang lain.""Maafkan aku. Ya, maafkan aku.""Tidak apa-apa, ayah. Jangan minta maaf, Akari beruntung! Ayah dari anak-anak lain tidak bisa selalu datang ke taman bermain!"Hidup sebagai anak dari seseorang yang memiliki retardasi mental membuat masa hidup Akari kecil diwarnai oleh para perundung. Teman-teman sekolahnya, bahkan yang sering bermain dengannya sering mengejeknya karena memiliki seorang ayah yang dipemandangan mereka seperti anak kecil. Tidak jarang Akari kecil menangis diam-diam di kamarnya saat malam hari, ia sama sekali tidak menangisi nasibnya, melainkan ayahnya yang selalu menerima banyak hinaan. Sano Akari yang seharusnya lebih banyak berpikir tentang bermain, justru harus dewasa sebelum waktunya.
Kehidupan yang aman dan penuh kasih sayang berubah saat hari di mana Sano Gajiro hendak pergi untuk menjemput Akari dari sekolahnya. Tanpa sengaja Gajiro harus bersinggungan jalan dengan para Yakuza di kota Takamatsu. Jalan yang biasa dilewatinya untuk menuju sekolah Akari didapatinya kira-kira 9 pemuda tengah mengerumuni seorang gadis remaja yang masih berseragam sekolah. Seorang pemuda yang berdiri tepat di hadapan gadis malang itu tampak sudah membuka resleting celananya, sebelum akhirnya sebuah balok kayu melayang di pelipisnya. Gajiro mengambil risiko dan menyelamatkan gadis remaja itu dari cengkeraman para anggota klan Yakuza itu. Begitu melihat gadis remaja itu sudah berlari menjauhi tempat itu, Gajiro pun dengan polosnya menasihati mereka untuk tidak menyakiti anak-anak. Kesembilan anggota klan Yakuza itu tampak hanya memandanginya dengan tangan kanan yang sudah berada di saku celana mereka, tempat di mana senjata api milik mereka berada. Sebuah tamparan yang melayang di pipi Gajiro memberikan sinyal bahaya di kepala pria paruh baya itu, lantas berbalik dan lari dari sana.
Akari baru saja keluar dari gerbang sekolahnya dan melangkahan kedua tungkainya menuju jalan di mana biasa sang ayah menjemputnya. Dari kejauhan Akari dapat melihat sekumpulan pemuda sedang mengerumuni seseorang, namun Akari tidak dapat melihat dengan jelas. Ketika sebuah tamparan dilayangkan pada seseorang yang dikerumuni oleh mereka maka tampaklah jelas bahwa yang sedang dikerumuni adalah seorang pria, dan ketika pria itu mulai berlari meninggalkan para pemuda itu, Akari baru dapat mengenali bahwa pria yang baru saja ditampar adalah ayahnya sendiri. Dalam kepolosannya, Sano Gajiro berlari ke arah Akari sambil melambaikan kedua tangannya, sebelum akhirnya sebuah peluru melesat dan mengenai kepalanya. Melihat apa yang baru saja terjadi, Akari yang masih berumur 10 tahun hanya terpaku membisu di tempatnya berdiri, bahkan sebuah teriakan tidak dapat keluar dari bilah bibirnya, melainkan air mata sudah membanjiri wajah kecilnya. Satu peluru nyatanya tidak cukup memuaskan bagi para pemuda itu, mereka pun saling bergantian menembakkan senjata mereka ke arah tubuh Sano Gajiro. Ada 12 peluru yang melesat ke tubuh Sano Gajiro yang sudah terbujur kaku di tanah. Para pemuda anggota klan Yakuza itu hanya memandangi Akari dari tempat mereka berdiri, salah satu dari mereka hendak menarik pelatuk untuk menembak ke arah Akari, namun segera dihentikan oleh yang lain. Kesembilan pemuda itu pun lantas pergi meninggalkan tempat itu, tepat ketika mereka pergi beberapa orang yang mendengar suara tembakan yang berasal dari sana segera berlari untuk melihat korban. Akari lantas berlari untuk menemui ayahnya yang sudah terbujur kaku, suara teriakan dan tangisannya pada hari itu begitu menyayat hati bagi siapa pun mendengarnya. Seorang anak berumur 10 tahun harus melihat ayahnya sendiri mati dibunuh tepat di depan matanya.Sebagai seorang anak yang masih berumur 10 tahun, Akari masih cukup mengingat wajah dari para pembunuh ayahnya. Penyelidikan kepolisian terkait kasus pembunuhan ayahnya berlangsung dengan sangat tidak masuk akal dan tidak adil. Kasus pembunuhan ayahnya ditutup hanya dalam kurun waktu sebulan dengan seorang pemuda yang mengaku sebagai pelaku, tidak ada pergerakkan yang begitu berarti dari pihak kepolisian kota Takamatsu dan hasil autopsi menunjukkan bahwa hanya ada 2 peluru yang bersarang di dalam tubuh Sano Gajiro, pelaku pun mengaku hanya menembak dua kali, yaitu di kepala dan di bagian punggung. Pelaku hanya menerima hukuman selama 10 tahun dan dibebaskan. Namun, Akari kecil ingat jelas bahwa yang membunuh ayahnya bukanlah pemuda itu. Akari tidak akan pernah melupakan wajah dari pelaku utama yang menyesatkan peluru pertama ke kepala ayahnya, seorang pemuda yang terlihat masih muda dengan tato berbentuk kupu-kupu di tangan kanannya. Ia bertekad akan mencari pelaku pembunuhan ayahnya.Departemen layanan anak dan keluarga yang ada di kota Takamatsu lantas memasukkan Akari ke panti asuhan yang ada di kota itu. Dalam waktu kira-kira 2 tahun, Akari mendapatkan keluarganya yang baru. Ia diadopsi oleh seorang pria yang ternyata adalah salah satu pimpinan klan Yakuza yang besar di kota Takamatsu, yaitu Kamisato-kai. Setelah diangkat oleh Kinoshita Asahi, nama Sano Akari pun menghilang dari muka bumi dan digantikan oleh Kinoshita Karin. Nyatanya, ia diangkat sebagai anak oleh Kinoshita Asahi hanya untuk dijadikan sebagai senjata manusia yang digunakannya untuk kepentingan klan Yakuza mereka atas persetujuan dari ketua klan.
Saat itu Akari masih berumur 12 tahun ketika diadopsi dan namanya pun berubah menjadi Kinoshita Karin. Sejak berada di kediaman Kinoshita Asahi, Karin dilatih untuk menjadi petarung yang tangguh, bahkan dalam hal menembak, memanah dan fisik yang kuat dengan kehebatan akrobatik. Setiap hari harus berlatih dan mendapatkan beberapa bekas luka yang ada di punggung dan bagian perut serta dada, semua diakibatkan oleh proses latihan berat yang sudah diterimanya sejak memasuki kediaman keluarga Kinoshita, yaitu ayah angkatnya.
Karin memang hanyalah seorang anak angkat, namun Kinoshita Asahi selalu menganggapnya sebagai anak kandungnya, bahkan memberikan 10% kekayaannya atas nama Karin. Kedua kakak laki-lakinya yang adalah hasil dari pernikahan Kinoshita Asahi dengan istrinya yang telah lama meninggal pun begitu menyayangi Karin sebagai adik perempuan mereka. Ia memang dibesarkan sebagai senjata bagi Kamisato-kai, tapi bukankah semua anak-anak dari dari klan Yakuza dibesarkan seperti itu? Setidaknya itulah yang terjadi kepada anak-anak dari semua keluarga yang berada di bawah payung besar Kamisato-kai.
Tumbuh di dalam klan Yakuza membuat Karin merasa sangat beruntung. Ia merasa dengan dirinya yang diadopsi ke dalam keluarga Kinoshita membuatnya semakin dekat dengan tujuan balas dendamnya. Semua pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya dapat membuatnya dengan mudah meraih tujuannya itu. Benar saja, Karin bertemu dengan pembunuh ayahnya ketika menghadiri sebuah pertemuan para pimpinan klan-klan Yakuza yang ada di kota Takamatsu. Hari itu Asahi membawa Karin bersamanya, dan ternyata pria yang telah membunuh ayahnya adalah adik dari salah satu pimpinan klan Yakuza di kota itu, yaitu Kizuna-kai.
Pertemuan pertamanya dengan pelaku pembunuhan ayahnya adalah saat ia berumur 18 tahun. Saat itu Karin memutuskan tidak hanya akan menghancurkan dan membunuh pelaku utama kematian mendiang ayahnya, melainkan menghancurkan seluruh Kizuna-kai secara perlahan. Untuk memulai semua rencananya, Karin memutuskan untuk menjadi seorang dokter forensik yang akan selalu berhubungan langsung dengan pihak kepolisian dan klan Yakuza yang ada di kota Takamatsu.Akankah Kami-sama membawanya pada kepuasan untuk merasakan dendam yang terbalaskan ataukah ia harus berakhir dengan mengikhlaskan segalanya?